Pendidikan dan Software Bajakan, Tak Terpisahkan? F/OSS, Sebuah Jawaban?

May 16, 2008

Dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya cukup menyedihkan menurut pandangan pribadi saya. Betapa tidak? Di era teknologi informasi saat ini, perangkat lunak yang digunakan di dunia pendidikan sebagian besar adalah perangkat lunak komersial dan berbayar. Namun sayangnya bukan perangkat lunak asli atau genuine yang digunakan melainkan bajakan.

Ironis jika siswa SMP yang baru mengenal komputer diajari dengan Sistem Operasi dan Aplikasi bajakan. Lalu mereka diberi tugas atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dengan perangkat lunak yang sama. Biaya sekolah saja sudah cukup mahal, apalagi jika siswa harus dibebani untuk membeli perangkat lunak yang asli atau genuine. Bukankah harganya akan lebih mahal dari harga perangkat kerasnya itu sendiri? Sebagai contoh harga Microsoft Office 2007 saja $499.95. Harga itu setara dengan satu set hardware PC yang sangat bagus untuk saat ini. Dan pilihannya, tentu saja siswa tadi akan memakai perangkat lunak yang sama versi bajakan. Dan pada akhirnya, setelah lulus nanti, mereka hanya akan mengenal dan familiar dengan perangkat lunak yang sama.

Pada waktu saya masih sekolah di tingkat SMP, saya bahkan tidak tahu kalau program yang terpasang di komputer itu harus bayar. Dan hingga lulus SMA, saya hanya belajar dengan perangkat lunak yang sama di sekolah. Bahkan saat saya sudah berada di bangku kuliah, masih ada juga dosen yang memberikan tugas untuk dikerjakan dengan perangkat lunak proprietary. Bisa dibayangkan, berapa uang saku anak kos. Jujur saja, bahkan sampai sekarang saya belum memiliki komputer pribadi :D .

Perangkat lunak yang terpasang di komputer-komputer yang ada di institusi pendidikan mungkin sudah menggunakan lisensi resmi dari vendor perangkat lunak yang bersangkutan. Itu artinya penggunaan perangkat lunak tersebut legal. Akan tetapi bagaimana dengan keadaan pelajar di Indonesia sendiri? Meninjau pola pikir masyarakat dan pendapatan per kapita saat ini, pasti jawabannya adalah tidak jika diharuskan membeli perangkat lunak yang genuine tersebut. Apalagi jika harga BBM naik lagi, hehehe, No Offense (maklum mahasiswa :P ). Kebutuhan yang lebih mendesak jauh lebih banyak, dan perangkat lunak berbayar yang asli merupakan barang mewah. Jangankan yang harganya $ 499.95, CD musik original yang harganya di bawah Rp. 100.000,- saja, kebanyakan masyarakat memilih untuk download mp3 saja. Termasuk penulis, :D .

Akan tetapi, sudah siapkah dunia pendidikan di Indonesia dengan migrasi ke Free/Open Source Software? Bagaimana dengan kompatibilitas data dari perangkat lunak proprietary dengan perangkat lunak kode sumber terbuka? Sebenarnya tak perlu berfikir terlalu jauh tentang hal ini. Secara teknis, sudah banyak aplikasi F/OSS yang bisa menggantikan aplikasi-aplikasi proprietary. Misalnya OpenOffice.org, yang bisa menggantikan tugas Microsoft Office, dan harganya gratis. Meskipun untuk beberapa tugas seperti perhitungan analisis dan design, beberapa perangkat lunak belum dapat tergantikan dengan baik. Yang masih menjadi kendala adalah dari tenaga pengajarnya sendiri. Sudah siapkah tenaga pengajar di Indonesia untuk hanya mengajarkan Free/Open Source Software? Inilah sesungguhnya tantangan terbesar dalam migrasi dunia pendidikan ke Free/Open Source Software.

Jika tenaga pengajar di Indonesia sudah siap dan mau (mampu diabaikan, karena jika mau, sudah pasti mampu) mengajar dengan Free/Open Source Software, maka sebagian besar masalah pembajakan perangkat lunak di Indonesia akan teratasi. Karena masyarakat Indonesia pada generasi mendatang akan terbiasa menggunakan Free/Open Source Software yang murah dan legal. Saya katakan murah, karena FOSS tak selalu gratis, melainkan bebas. Namun meskipun berbayar harganya masih tetap terjangkau, dan sebagian besar masih menyediakan versi gratis dari FOSS yang berbayar tersebut. Selain itu, dampak positif lainnya adalah kreativitas peserta didik bisa ditingkatkan dengan penggunaan FOSS. Mereka bisa mencoba-coba untuk mengubah perangkat lunak yang mereka gunakan menjadi versi mereka sendiri karena source code dari FOSS bersifat terbuka. Juga karena adanya lisensi GNU GPL yang menjamin kebebasan penggunaan setiap end user. Tak menutup kemungkinan suatu hari nanti Indonesia bukan hanya menjadi importir melainkan juga importir perangkat lunak. :)

Hendra Rizki HP
Divisi Pendidikan dan Latihan
Komunitas Pengguna Linux dan Open Source Semarang

Entry Filed under: Words.... Tags: , , , , , , .

2 Comments Add your own

  • 1. donnybu  |  May 25, 2008 at 9:10 am

    postingan artikel ini sudah dibaca oleh saya. semoga sukses… :)

    -dbu-
    [www.donnybu.com]

  • 2. hendrarizki  |  March 26, 2009 at 10:36 am

    Hummm… :-?

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

 

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Tags

Antique bind bind9 block cache debian dns foss free igossummit2 informasi ite kampus komputer Lagu Linux Lirik negative content Nidji opendns open source pemerintah pendidikan proprietary server software songs squid ubuntu UU

IGOS Summit 2

Saya Mendukung IGOS Summit 2

OpenDNS

Use OpenDNS

KPLI Semarang

Komunitas Ubuntu Semarang

Blogroll

Komunitas

Recent Posts

Blog Stats

Spam Blocked